Perjalanan Rasulullah ke Sidratul Muntaha atau yang dikenal dalam Islam dengan peristiwa Isra’ Miraj sungguh suatu hal yang luar biasa dan menakjubkan. Sehingga, hingga kini peristiwa tersebut terus diperingati oleh sebahagian umat Islam dengan mengadakan wirid pengajian. Ada 3 nilai yang dapat kita ambil dari preistiwa tersebut :

  1.  1. Aspek keimanan Peristiwa Isra Miraj ini tidak gampang dipahami orang. Karena perjalanan Rasulullah merupakan perjalanan fisik dan jiwanya. Tidak seperti yang difahami sebahagian orang yang mengatakan perjalanan jiwanya saja. Kalau Cuma jiwanya saja, tidak mungkin dibicarakan sampai seheboh iniSungguh tak bisa dibayangkan apabila perjalanan Isra Miraj yang Rasulullah jalankan merupakan hanya perjalanan ruhani alias hanya mimpi, karena jika hal itu yang terjadi maka perjalanan Isra’ Mi’raj tidak ada bedanya dengan wahyu-wahyu yang Rasulullah terima baik melalui bisikan Jibril maupun dari mimpi. Sehingga peristiwa Isra Mi’raj tidak bisa dijadikan pembuktian keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. Sepulangnya Rasulullah dari perjalanan Isra’ dan Mi’raj-nya, beliau mengumumkan tentang apa yang telah dialaminya semalam kepada kaumnya.
  2. aspek kedua adalah aspek ritual.  Hal ini berkaitan dengan maksud dari Isra’ Miraj itu sendiri yaitu untuk menjemput perintah shalat. “Coba kita bayangkan, pertama diwajibkannya shalat itu sebanyak 50 kali sehari semalam. Namun Rasulullah meminta dikurangi sampai sembilan kali. Sehingga yang tersisa Cuma lima kali saja. Itupun masih banyak umat Islam yang tidak melaksanakannya,“Shalat itu kan Cuma 4-5 menit saja ya. Tak seberapa banyaknya dengan waktu 24 jam yang diberikan Allah. Namun untuk memberikan waktu sebentar untuk shalat itupun orang-orang masih enggan,” tambahnya. Percuma saja umat Islam setiap tahun memperingati Isra Miraj sedangkan ia masih enggan mendirikan shalat. Sedemikian mulianya perintah shalat sampai harus dijemput ke langit. Namun perjalanan Rasulullah itu akan sia-sia belaka jika umat Beliau SAW tidak mau melaksanakannya.
  3. Aspek ketiga dalam Isra Mi’raj tersebut adalah aspek sosial. Hal ini harus ada dalam setiap muslim yang tidak hanya memperhatikan hubungan vertikalnya dengan Allah, namun juga hubungan horizontalnya ke sesama masyarakat. “Coba kita lihat sewaktu kita akan mengakhiri shalat dengan mengucapkan Assalamu’alaikum ke kiri dan ke kanan. Mengapa kita mengucapkan salam ke saudara disamping kiri dan disamping kanan kita? Tujuannya, setelah kita menunaikan ritual ibadah kita kepada Allah, kita juga memperhatikan orang-orang disegitar kita dengan menyambung silaturrahmi,”

Demikianlah ciri khas seorang muslim. Seyogyanya tiga aspek ini senantiasa dan harus ada dalam diri seorang muslim hingga akhir hayatnya. Wallahu aklam