eiring dengan waktu, tak terasa kita akan memasuki tahun baru 2014. Umumnya dalam rangka menyambut pergantian waktu, berbagai ragam dan cara dilakukan, mulai dengan cara meniup terompet, pesta kembang api, menghadiri tempat wisata , berfoya-foya dan ada juga mengikuti hawa nafsu dengan lawan jenis dsb. Islam memiliki pandangan sendiri tentang perayaan Tahun Baru Masehi milik umat Nasrani itu. Berikut beberapa hal yang berkatian dengan peringatan Tahun Baru Masehi :

A. Sejarah Tahun Baru Masehi

Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (sebelum masehi). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.Dari sini kita dapat menyaksikan bahwa perayaan tahun baru dimulai dari orang-orang kafir dan sama sekali bukan dari Islam. Perayaan tahun baru terjadi pada pergantian tahun kalender Gregorian yang sejak dulu telah dirayakan oleh orang-orang kafir.

B. Alasan Larangan Merayakan Tahun Baru Masehi, antara lain :

  1. Merayakan tahun baru masehi berarti, berarti mengikuti kebiasan orang yahudi dan nasrani atau Tasyabuh, perbuatan yang dilarang dalam ajaran Islam . Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka. (HR. Abu Dawud, Ahmad dan dishahihkan Ibnu Hibban. Ibnu Taimiyah menyebutkannya dalam kitabnya Al-Iqtidha’ dan Fatawanya. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 2831 dan 6149). Ibnu Taimiyah rahimahullaah menyebutkan, bahwa menyerupai orang-orang kafir merupakan salah satu sebab utama hilangnya (asingnya syi’ar) agama dan syariat Allah, dan munculnya kekafiran dan kemaksiatan. Sebagaimana melestarikan sunnah dan syariat para nabi menjadi pokok utama setiap kebaikan. (Lihat: Al-Iqtidha’: 1/314).
  2. Sikap boros merupakan salah satu sikap perbuatan syetan. Merayakan hari raya dengan cara foya-foya, menghamburkan uang untuk membeli sesuatu yang mubazir ( petasan ), mengunjungi tempat hiburan merupakan perbuatan yang sia-sia. Hanya sebatas mengikuti hawa nafsu. Padahal suatu saat nanti, manusia pasti akan diminta pertanggungjawaban mengenai harta.
  3. Begadang dan berkumpul ditempat hiburan hingga larut malam, dapat melalaikan kepada Allah SWT. Apalagi dibarengi dengan perbuatan maksiat lainnnya, seperti pacaran dan perzinahan dikalangan remaja. Bukankah Allah SWT menciptakan malam agar manusia dapat beristirahat dan bermunajat doa kepada-Nya. Bukan untuk melakukan perbuatan yang sia-sia.

Sebagaian ulama ada yang berpendapat :

  • Apabila ada yang merayakan tahun baru masehi dalam rangka bersyukur kepada Allah SWT dan menginstropeksi diri kita , apa apa saja yang telah kita lakukan pada tahun lalu , kesalahan apa saja yang telah kita buat lalu kita memperbaikinya di tahun yang akan datang . Lalu diniatkan malam tahun baru untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan melakukan shalat tahajud pada malam pergantian tahun. Tanpa ikut larut serta dalam keramaian tahun baru. Hal ini boleh saja dilakukan.

Hanya saja bukankah  “ Allah SWT telah menyuruh kepada manusia untuk intropeksi, berzikir , bersyukur, beribadah pada setiap waktu dan dimanapun kita berada. Dan Islam dengan jelas,  telah menjelaskan tata cara bersyukur yang sesuai dengan ajaran Allah SWT , sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW “. Kita sebagai seorang muslim yang beriman hendaknya mengikuti apa-apa yang telah ditetapkan dalam Islam dan menjauhi larangannya.  Wallahua’lam